Skip to main content

Posts

Showing posts with the label PUISI PENYESALAN

Tamparan Yang Meninggalkan Cahaya Bulan Karya Novita Sari

Tamparan Yang Meninggalkan Cahaya Bulan Aku tau mungkin mereka sama-sama samar Aku yang terlalu gelap Tidak terlalu compang-camping namun mereka masih lebih baik Apa yang lebih buruk dari gelap Kurasa itu yang terdalam Seharusnya aku melihat yang baik untukku Bukan sengaja mengacuhkan itu Aku takut, ia Aku terlalu takut akan akan ia Namun aku selalu saja membuat ia kesal Lalu aku harus

PENYESELAN CINTA (Puisi Penyesalan)

Andaikan aku bisa membaca pikiran dan isi hatimu pasti aku tahu apa yang harus aku lakukan entah bertahan atau meninggalkanmu. Jangan pernah memberiku sedikit harapan atau kau akan melihatku terpuruk untuk selamanya saat engkau pergi. Jangan biarkan mimpi ini terus berlanjut,,karena aku akan merasa kehilngan saat aku terbangun nanti. Jangan paksa aku untuk mencintaimu, karena aku tak sanggup untuk kehilangan dan melupakanmu. Jangan biarkan cinta ini tumbuh subur seperti mawar di sana karena jika kau pergi ia akan layu untuk selamanya. Jangan pernah melukai dirimu sendiri ,karena hal itu dapat membuat ku terluka. Aku tahu… Hal ini tak boleh terjadi. Namun,, ia terus bermekaran tanpa pernah ku sadari karya : Valeria Gifridus

IRONIS (Puisi Penyesalan)

Penat pekat terkatung menantang kekosongan berjalan mundur mengitari penyebab masa depan tak terhitung banyaknya kesalahan tak terbendung adanya penyesalan ironis.. bukan sebuah bangkai yang berjalan tanpa ruh bukan pula burung yang terbang tanpa sayap hanya sedikit kegalauan yang sulit dimengerti dan sedikit dari banyaknya problema dalam hati Oleh : Zul

TIDAK ADA GUNANYA MENJAUHI CINTA (Puisi penyesalan)

Suatu hari, kulihat kau pergi, sempat sambil menangis, dan berucap tak akan kembali lagi. Lalu, aku dengan tegasnya kata dan kerasnya hati berusaha melepaskan kau pergi, kukatakan : 'Pergi saja! kita memang tak pernah ditakdirkan untuk bersama' Waktu demi waktu berlalu. Aku dengan hidupku, kau dengan hidupmu. Sementara cinta kita, entah ada di mana. Mungkin saja ia bersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk muncul lagi. Atau bisa saja ia sudah berlari, jenuh dan memang ingin selamanya pergi. Aku terseok-seok saat itu. Sepi, sendiri, dan kenangan sungguh benar-benar enggan pergi. Aku tak tahu bagaimana denganmu. Namun sungguh, aku rindu segala hal tentang kamu. Aku malu mengingat-ingat kembali, bahwa seharusnya tidak ada kita yang terpisah. Aku enggan mengakui, bahwa memenangkan ego sama sekali tidak membahagiakan diri. Aku marah meng...